LIGA SPANYOL

Tekanan ekstrem Santiago Bernabeu dan tuntutan hasil instan disebut jadi alasan utama kursi pelatih kembali berganti.

61
×

Tekanan ekstrem Santiago Bernabeu dan tuntutan hasil instan disebut jadi alasan utama kursi pelatih kembali berganti.

Share this article

Tekanan ekstrem Santiago Bernabeu dan tuntutan hasil instan disebut jadi alasan utama kursi pelatih kembali berganti.

Tekanan ekstrem Santiago Bernabeu dan tuntutan hasil instan disebut jadi alasan utama kursi pelatih kembali berganti.
Tekanan ekstrem Santiago Bernabeu dan tuntutan hasil instan disebut jadi alasan utama kursi pelatih kembali berganti.

handicap.co.id,jakarta – Keputusan Real Madrid memecat Xabi Alonso sebagai pelatih mengejutkan banyak pihak, namun tidak bagi Gareth Bale. Mantan bintang Los Blancos itu secara terbuka mengaku tidak terkejut melihat nasib mantan rekan setimnya tersebut, mengingat kerasnya budaya dan tekanan di Santiago Bernabeu.

Pemecatan Xabi Alonso menjadi bukti bahwa Real Madrid tetap berpegang pada prinsip lama: hasil adalah segalanya. Nama besar, status legenda klub, hingga rekam jejak sebagai pelatih tidak cukup untuk memberi jaminan keamanan.


Gareth Bale: “Di Real Madrid, Semua Bisa Terjadi”

Gareth Bale, yang pernah merasakan langsung atmosfer ruang ganti Real Madrid selama bertahun-tahun, menilai keputusan klub bukanlah hal baru. Menurutnya, Real Madrid adalah klub dengan ekspektasi paling tinggi di dunia sepak bola.

“Di Madrid, kalau hasil tidak sesuai harapan, pergantian pelatih adalah hal biasa. Bahkan untuk seseorang seperti Xabi Alonso,” ungkap Bale dalam wawancara terbarunya.

Bagi Bale, tekanan di Madrid jauh berbeda dibanding klub-klub top Eropa lainnya. Setiap pertandingan, setiap hasil, dan setiap keputusan pelatih selalu berada di bawah sorotan ekstrem.


Xabi Alonso: Dari Harapan Besar ke Keputusan Pahit

Ketika Xabi Alonso ditunjuk sebagai pelatih Real Madrid, ekspektasi langsung melambung tinggi. Statusnya sebagai legenda klub, ditambah reputasi positifnya sebagai pelatih muda, membuat banyak pihak percaya ia adalah proyek jangka panjang.

Namun kenyataannya tidak berjalan mulus. Beberapa hasil kurang konsisten, kegagalan di laga-laga krusial, serta tekanan media membuat posisinya terus digoyang.

Di Real Madrid, waktu adalah kemewahan yang jarang diberikan. Proyek jangka panjang sering kali kalah oleh tuntutan hasil instan.


Tekanan Bernabeu yang Tak Pernah Berubah

Gareth Bale menilai pemecatan Xabi Alonso mencerminkan satu hal yang konsisten dari masa ke masa: tidak ada toleransi untuk penurunan performa.

Baca Juga  Real Madrid Dapat Kabar Tak Sedap Jelang Lawan Benfica

Sebagai mantan pemain, Bale mengaku paham betul bagaimana tekanan itu bekerja:

  • Media Spanyol sangat kritis
  • Fans menuntut kemenangan di setiap laga
  • Manajemen bergerak cepat tanpa kompromi

Bale sendiri pernah menjadi sasaran kritik tajam meski berkontribusi besar dalam raihan trofi Liga Champions.


Faktor Hasil dan Gaya Bermain

Selain hasil, gaya bermain Xabi Alonso juga disebut menjadi faktor penentu. Real Madrid dikenal sebagai klub yang menuntut sepak bola atraktif sekaligus efektif.

Beberapa kritik yang muncul selama masa kepelatihan Alonso antara lain:

  • Permainan dinilai kurang tajam di laga besar
  • Transisi bertahan kerap bermasalah
  • Kurang fleksibel dalam merespons tekanan lawan

Meski demikian, banyak pengamat menilai Alonso belum mendapat waktu yang cukup untuk benar-benar membangun tim sesuai visinya.


Gareth Bale Bicara Soal Budaya Real Madrid

Bale menekankan bahwa Real Madrid bukan klub yang cocok untuk semua pelatih, terutama yang masih berada dalam fase belajar.

“Madrid bukan tempat belajar. Madrid tempat membuktikan diri,” ujar Bale.

Menurutnya, pelatih di Real Madrid harus siap menghadapi situasi ekstrem, termasuk:

  • Tekanan media harian
  • Kritik dari legenda klub
  • Tuntutan trofi setiap musim

Dalam konteks itu, Bale menganggap pemecatan Xabi Alonso sebagai risiko yang sudah bisa diprediksi sejak awal.


Reaksi Publik dan Fans Real Madrid

Keputusan pemecatan Xabi Alonso memicu reaksi beragam dari fans. Sebagian kecewa karena klub dianggap terlalu cepat mengambil keputusan, sementara lainnya mendukung langkah manajemen demi menjaga standar tinggi.

Fans yang mendukung Alonso berpendapat:

  • Ia layak mendapat musim penuh
  • Proyek jangka panjang dibutuhkan
  • Status legenda seharusnya memberi sedikit toleransi

Namun kubu lain menilai Real Madrid tidak boleh menurunkan standar, apa pun alasannya.

Baca Juga  Beban gaji tinggi, menit bermain berkurang, dan strategi regenerasi membuat Real Madrid mempertimbangkan melepas salah satu bintangnya.

Masa Depan Xabi Alonso Setelah Dipecat

Meski dipecat Real Madrid, reputasi Xabi Alonso sebagai pelatih tetap tinggi. Banyak klub Eropa diyakini masih tertarik menggunakan jasanya.

Gareth Bale pun yakin Alonso akan segera bangkit.

“Dia cerdas, punya pemahaman taktik luar biasa, dan pengalaman elite. Ini bukan akhir,” kata Bale.

Pemecatan dari Real Madrid justru sering menjadi batu loncatan bagi pelatih untuk membuktikan kualitasnya di tempat lain.


Real Madrid dan Siklus Pelatih

Kasus Xabi Alonso kembali menegaskan pola lama Real Madrid:

  • Pelatih datang dengan harapan besar
  • Tekanan meningkat dalam hitungan bulan
  • Keputusan tegas diambil saat hasil tak sesuai target

Siklus ini sudah terjadi berkali-kali, bahkan pada pelatih-pelatih sukses sekalipun.


Kesimpulan

Gareth Bale nggak kaget lihat Xabi Alonso dipecat Real Madrid, karena ia tahu betul kerasnya dunia di Santiago Bernabeu. Di klub sebesar Real Madrid, nama besar dan sejarah tidak cukup untuk menjamin kesabaran.

Pemecatan ini menjadi pengingat bahwa Real Madrid tetap setia pada DNA mereka: menuntut kesempurnaan, setiap saat. Sementara bagi Xabi Alonso, ini mungkin hanya satu bab pahit dalam perjalanan panjang karier kepelatihannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *