Handicap.co.id, Medan – Paul Scholes menyoroti Cristian Romero, bek Tottenham Hotspur, yang baru-baru ini mendapat kartu merah saat bertemu Manchester United. Legenda MU itu menilai Romero memiliki karakter kuat meskipun permainan pemain Argentina itu kerap menuai kontroversi.
Romero diusir dari lapangan setelah melakukan tekel tinggi terhadap Casemiro saat Spurs bertandang ke Old Trafford. Akibat kartu merah tersebut, ia harus absen selama empat pertandingan berikutnya untuk Tottenham.
Insiden itu terjadi saat skor masih 0-0, dan Manchester United akhirnya meraih kemenangan 2-0. Peristiwa ini memicu kritik dari media dan para penggemar, tetapi Scholes tetap memandang positif Romero. Ia menilai bek asal Argentina itu memiliki potensi besar yang layak dimanfaatkan oleh klub lain, termasuk Manchester United.
Scholes Puji Karakter Romero
Scholes menyatakan kekagumannya terhadap Romero meskipun insiden kartu merah membayanginya. Menurut Scholes, Romero menunjukkan karakter yang kuat dan bisa menjadi aset penting bagi United.
Kabar yang beredar menyebut Romero tidak lagi nyaman di Tottenham dan tampaknya ingin mencari klub baru. Scholes yakin hal ini bisa membuka peluang bagi Manchester United untuk merekrutnya.
“Saya menyukainya,” ujar Paul Scholes dalam podcast The Good, The Bad and The Football. “Saya senang menyaksikan dia bermain.”
“Dia tampak frustrasi di Spurs. Ia marah kepada pendukung, juga manajemen, dan sepertinya pikirannya sudah tidak fokus di klub. Tapi saya ingin melihat dia di Manchester United. Karakternya benar-benar menarik,” tambahnya.
Romero, Pemimpin di Tottenham
Selain kemampuan bertahan, Romero dikenal sebagai sosok pemimpin di ruang ganti Spurs. Meski emosinya kadang memuncak, ia berperan penting dalam membimbing pemain muda dan menjaga semangat tim.
Romero masih berproses mengendalikan agresinya agar tidak merugikan tim. Pelatih Tottenham, Thomas Frank, menilai Romero memiliki kualitas kepemimpinan yang menonjol meski masih terus berkembang.
“Bagi saya, dia seorang pemimpin,” ujar Frank. “Dia masih muda, tapi belajar setiap hari.”
Frank menambahkan, “Saya mengalami hal serupa saat berusia 30 tahun. Saya pikir saat itu saya hebat, tapi ternyata masih banyak yang harus dipelajari, terutama soal kepemimpinan. Bermain dengan semangat dan agresi tinggi memang bisa menimbulkan masalah, tapi ini bagian dari proses belajar.”
Sumber: Metro









