Handicap.co.id, Bandung – Pelatih Man City, Pep Guardiola, menyuarakan seruan agar para penggemar sepak bola menunjukkan rasa saling menghormati terhadap perbedaan keyakinan. Hal itu disampaikannya setelah terdengar siulan dari sebagian suporter Leeds ketika pertandingan dihentikan sejenak demi memberi kesempatan pemain Muslim berbuka puasa Ramadan.
Pertandingan pekan ke-28 Premier League musim 2025/2026 di Elland Road dihentikan sementara pada menit ke-13, bertepatan dengan waktu Maghrib. Penghentian singkat ini dilakukan agar pemain yang menjalankan puasa dapat minum dan makan ringan.
Meskipun informasi mengenai jeda tersebut telah ditampilkan di layar stadion, sejumlah penonton tetap melontarkan cemoohan. Guardiola menilai reaksi tersebut tidak pantas terjadi di sepak bola modern.
“Ini adalah dunia yang penuh perbedaan. Kita harus menghormati agama dan keberagaman. Liga memberi waktu satu atau dua menit bagi pemain yang berpuasa untuk berbuka. Aturannya memang seperti itu,” tegas Guardiola.
Ia menjelaskan bahwa beberapa pemain belum mengonsumsi makanan sepanjang hari sebelum momen tersebut tiba. “Mereka hanya mengandalkan sedikit asupan vitamin. Lalu apa masalahnya memberi waktu sebentar untuk minum?” lanjutnya.
Kekecewaan dari Kubu Leeds
Asisten pelatih Leeds, Edmund Riemer, yang hadir dalam konferensi pers menggantikan Daniel Farke, mengaku kecewa atas adanya suara sumbang dari tribun. Menurutnya, kejadian ini harus menjadi bahan pembelajaran bagi semua pihak.
“Kami perlu mengambil pelajaran dari situasi ini. Sangat disayangkan, dan kami harus bisa bersikap lebih baik ke depannya,” ujarnya.
Sebelumnya, Guardiola juga menyinggung bahwa beberapa pemainnya sudah terbiasa menjalani Ramadan tanpa mengorbankan profesionalisme. Klub, kata dia, memiliki tim nutrisi khusus untuk menyesuaikan kebutuhan fisik para pemain, meski jadwal liga tidak bisa diubah.
Protokol yang Berlaku Selama Ramadan
Penghentian singkat pertandingan saat waktu berbuka telah menjadi prosedur yang diterapkan dalam beberapa musim terakhir. Tujuannya adalah memberi ruang bagi pemain Muslim agar tetap dapat menjalankan kewajiban agamanya tanpa mengganggu jalannya laga.
Organisasi anti-diskriminasi Kick It Out turut menanggapi insiden tersebut dengan menyebutnya sebagai hal yang “sangat disayangkan”. Mereka menegaskan bahwa jeda berbuka merupakan bagian penting dari upaya menciptakan sepak bola yang inklusif bagi komunitas Muslim.
Menurut mereka, dunia sepak bola masih membutuhkan edukasi lebih luas agar nilai toleransi dan penerimaan bisa benar-benar tertanam di semua lapisan penggemar.