Pelatih PSS Sleman, Pieter Huistra, menyuarakan kekecewaannya atas keputusan VAR yang mengubah alur pertandingan melawan Persik pada pekan ke-… di BRI Super League 2026/2027. Menurut Huistra, keputusan yang menolak gol penyama kedudukan yang dicetak oleh Gustavo Tocantins pada menit ke‑63 tidak hanya memengaruhi hasil akhir, melainkan juga menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi dan transparansi penggunaan teknologi bantuan wasit di kompetisi Liga 1.
Keputusan VAR tersebut diambil setelah wasit melakukan pengecekan ulang karena posisi Riko Simanjuntak dinilai offside pada fase serangan. Meskipun gol tersebut tampak sah di lapangan, tim teknis PSS menilai proses peninjauan tidak memberikan penjelasan yang memadai, sehingga menimbulkan rasa frustrasi di antara pemain dan staf pelatih. Huistra menuntut agar ofisial pertandingan melakukan evaluasi diri secara menyeluruh guna meningkatkan kepercayaan semua pihak terhadap sistem VAR.
VAR di BRI Super League: Sejarah Singkat dan Tantangan Terkini
Sejak diperkenalkan pada musim 2022/2023, VAR (Video Assistant Referee) telah menjadi bagian integral dalam pengelolaan pertandingan Liga 1 Indonesia. Tujuan utama teknologi ini adalah meminimalisir kesalahan manusia dalam keputusan penting seperti gol, penalti, dan kartu merah. Namun, implementasinya tidak selalu mulus. Beberapa insiden kontroversial sebelumnya, termasuk keputusan offside yang dipertanyakan dan penundaan peninjauan yang lama, telah menimbulkan perdebatan di kalangan pelatih, pemain, dan penggemar.
Penggunaan VAR di Indonesia masih dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain keterbatasan infrastruktur, standar pelatihan ofisial yang belum merata, serta tekanan waktu dalam menilai keputusan secara real‑time. Pada pertandingan PSS vs Persik, proses VAR tampak memakan waktu cukup lama, sehingga mengganggu ritme pertandingan dan menambah ketegangan di tribun penonton.
Reaksi Pieter Huistra: Dari Kejutan Hingga Tuntutan Evaluasi
Setelah gol Gustavo Tocantins dibatalkan, Huistra langsung mengungkapkan kekecewaannya melalui konferensi pers pasca pertandingan. Ia menilai bahwa keputusan VAR tidak memberikan kejelasan yang cukup, terutama terkait posisi Riko Simanjuntak yang menjadi fokus peninjauan. Menurut Huistra, “Jika keputusan VAR diambil tanpa penjelasan yang transparan, maka kepercayaan pemain dan pelatih terhadap sistem akan tergerus.”
Selain mengkritik proses peninjauan, Huistra menekankan pentingnya evaluasi diri bagi ofisial pertandingan. Ia mengusulkan agar tim VAR melakukan review internal setelah setiap pertandingan, serta menyampaikan temuan tersebut kepada klub dan publik. Langkah ini, kata Huistra, dapat meningkatkan akuntabilitas dan membantu mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki, seperti standar penentuan offside dan kecepatan peninjauan.
Dampak Keputusan VAR Terhadap Perjalanan PSS di Musim Ini
PSS Sleman berada di tengah persaingan ketat klasemen BRI Super League. Setiap poin sangat berharga dalam upaya mempertahankan posisi di zona aman. Keputusan VAR yang menolak gol penyama kedudukan pada menit ke‑63 berpotensi mengubah dinamika poin yang didapatkan tim. Meskipun PSS tetap berjuang hingga akhir laga, kehilangan peluang emas tersebut menambah beban mental bagi pemain dan staf.
Secara taktik, keputusan tersebut memaksa pelatih Huistra untuk menyesuaikan strategi pada sisa pertandingan. Tanpa gol penyama, tekanan untuk mencetak kembali meningkat, yang pada gilirannya dapat memengaruhi pola serangan dan pertahanan tim. Dalam jangka panjang, insiden ini dapat memengaruhi motivasi pemain, terutama mereka yang terlibat langsung dalam fase serangan yang dibatalkan.
Aspek Teknis VAR yang Perlu Diperhatikan
Berikut beberapa elemen teknis yang menjadi sorotan dalam penggunaan VAR pada pertandingan-pertandingan Liga 1, termasuk laga PSS vs Persik:
- Penentuan Offside: Sistem harus mampu mengidentifikasi posisi pemain dengan akurat dalam hitungan milidetik. Kesalahan dalam penentuan offside dapat berujung pada pembatalan gol yang sah atau sebaliknya.
- Komunikasi Antara Wasit Lapangan dan VAR: Proses dialog harus jelas dan terdokumentasi, sehingga semua pihak memahami alasan keputusan.
- Waktu Peninjauan: Penundaan yang berlebihan dapat mengganggu alur pertandingan dan menimbulkan ketegangan di antara pemain serta penonton.
- Transparansi Hasil Review: Menampilkan visual atau penjelasan singkat kepada penonton dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap keputusan.
Memperbaiki keempat aspek tersebut dapat mengurangi kontroversi serupa di masa mendatang dan memperkuat legitimasi VAR di mata semua pemangku kepentingan.
Langkah-Langkah yang Dapat Diambil PSSI dan Komite VAR
Untuk menanggapi keluhan pelatih seperti Pieter Huistra, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan komite VAR dapat mempertimbangkan beberapa tindakan berikut:
- Audit Internal: Melakukan audit rutin terhadap proses VAR setelah setiap pertandingan, dengan melibatkan pihak independen untuk menilai objektivitas.
- Pelatihan Tambahan: Menyelenggarakan workshop intensif bagi ofisial VAR, fokus pada standar internasional dalam penentuan offside dan penggunaan teknologi terkini.
- Penggunaan Replay Visual: Memperkenalkan tampilan replay yang lebih informatif di layar stadion, sehingga penonton dapat melihat alasan keputusan secara real‑time.
- Komunikasi Publik: Mengeluarkan pernyataan resmi yang menjelaskan keputusan VAR secara singkat namun jelas, guna mengurangi spekulasi dan rumor.
Implementasi langkah-langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan akurasi keputusan, mempercepat proses peninjauan, serta menumbuhkan rasa keadilan di antara klub dan suporter.
Hal yang Perlu Dipantau di Pertandingan Selanjutnya
Berbagai faktor akan menjadi indikator keberhasilan perbaikan sistem VAR di Liga 1 ke depan, antara lain:
- Frekuensi Pembatalan Gol: Apakah jumlah gol yang dibatalkan berkurang secara signifikan dalam beberapa pekan ke depan?
- Waktu Peninjauan: Apakah rata‑rata waktu yang dibutuhkan untuk keputusan VAR menjadi lebih singkat?
- Reaksi Pelatih dan Pemain: Apakah ada penurunan keluhan publik terkait keputusan VAR?
- Transparansi Komunikasi: Apakah klub dan PSSI secara rutin mengeluarkan penjelasan tertulis atau video mengenai keputusan VAR?
Pengamatan terhadap indikator‑indikator tersebut akan membantu menilai apakah langkah evaluasi diri yang diminta oleh Pieter Huistra dan klub lain dapat menghasilkan perubahan yang berarti.
Kesimpulan
Keputusan VAR yang menolak gol penyama kedudukan pada menit ke‑63 dalam laga PSS Sleman melawan Persik menimbulkan protes keras dari pelatih Pieter Huistra. Keluhan tersebut menyoroti pentingnya transparansi, akurasi, dan kecepatan dalam penggunaan teknologi bantuan wasit di BRI Super League. Dengan menindaklanjuti tuntutan evaluasi diri, memperkuat pelatihan ofisial, serta meningkatkan komunikasi publik, PSSI dapat memperbaiki persepsi dan kinerja VAR.
Jika perbaikan tersebut berhasil, tidak hanya PSS Sleman yang akan merasakan manfaatnya dalam bentuk keputusan yang lebih adil, tetapi seluruh ekosistem sepak bola Indonesia—dari pemain, pelatih, hingga suporter—akan menikmati kompetisi yang lebih kompetitif dan kredibel. Pada akhirnya, kualitas keputusan VAR akan menjadi salah satu faktor penentu dalam pertarungan klasemen, sekaligus menegaskan komitmen liga terhadap standar internasional yang semakin tinggi.
Referensi topik: Bola.com. Artikel ini ditulis ulang secara orisinal dan tidak menyalin body maupun gambar dari sumber.
Foto oleh Franco Monsalvo dari Pexels.











