handicap.co.id, jakarta – Sepakbola Indonesia kerap dibanggakan sebagai olahraga paling populer di negeri ini. Stadion selalu penuh, rating siaran tinggi, dan diskusi soal tim nasional hampir tak pernah sepi. Namun di balik gegap gempita itu, ada satu pertanyaan besar yang terus menggantung: mengapa liga sepakbola putri tak kunjung digelar secara konsisten?
Pertanyaan ini bukan sekadar keluhan emosional. Ia lahir dari fakta bahwa sepakbola putri Indonesia seperti berjalan di tempat, bahkan tertinggal jauh dibanding negara-negara Asia Tenggara lain. Padahal, talenta ada, minat ada, dan prestasi tim nasional putri sempat memberi harapan.
Maka wajar jika publik bertanya dengan nada getir: Dear PSSI, begitu sulitkah menggelar Liga Sepakbola Putri?
Sepakbola Putri Bukan Isu Baru, Tapi Selalu Tertunda
Sejarah mencatat, PSSI sebenarnya sudah beberapa kali menggagas kompetisi sepakbola putri. Liga 1 Putri sempat diperkenalkan, bahkan digadang-gadang sebagai tonggak kebangkitan. Namun realitanya, kompetisi itu lebih sering berhenti di tengah jalan daripada berjalan berkelanjutan.
Musim datang dan pergi tanpa kejelasan. Klub bingung mempersiapkan tim, pemain kehilangan jam terbang, dan pembinaan usia dini tak punya tujuan yang jelas. Dalam sepakbola modern, liga bukan sekadar kompetisi, melainkan ekosistem pembinaan. Tanpa liga, sepakbola putri kehilangan fondasinya.
Prestasi Timnas Putri Tak Sejalan dengan Kompetisi Domestik
Ironisnya, tim nasional putri Indonesia beberapa kali menunjukkan progres. Penampilan di level Asia Tenggara mulai kompetitif, semangat pemain terlihat, dan antusiasme publik meningkat. Namun capaian itu berdiri di atas pondasi rapuh.
Mayoritas pemain timnas putri tak memiliki kompetisi reguler. Mereka berlatih di sela-sela turnamen, mengandalkan pemusatan latihan jangka pendek, lalu kembali ke rutinitas tanpa liga. Bandingkan dengan negara seperti Vietnam atau Thailand, yang memiliki liga putri berjalan rutin dan terstruktur.
Tanpa kompetisi domestik yang sehat, prestasi timnas putri sulit berkembang secara berkelanjutan.
Alasan Klasik: Dana, Sponsor, dan Minim Penonton
PSSI kerap menyebut persoalan dana dan sponsor sebagai kendala utama. Sepakbola putri dianggap belum menarik secara komersial. Jumlah penonton kecil, eksposur minim, dan sponsor ragu berinvestasi.
Namun logika ini terasa berputar di tempat. Bagaimana sepakbola putri bisa menarik sponsor jika liganya saja tidak digelar? Di banyak negara, liga putri justru tumbuh karena keberanian federasi memulai dan menopang di fase awal.
Investasi awal memang diperlukan. Tidak semua kompetisi langsung menguntungkan. Sepakbola putra Indonesia pun butuh waktu panjang sebelum menjadi industri besar seperti sekarang.
Bandingkan dengan Negara Tetangga
Thailand memiliki Thai Women’s League yang berjalan rutin. Vietnam serius mengembangkan liga putri hingga mampu bersaing di Piala Dunia Wanita. Bahkan Filipina, yang dulu tak dikenal sebagai kekuatan sepakbola, kini melesat cepat berkat kompetisi domestik dan dukungan federasi.
Indonesia? Masih sibuk dengan wacana.
Padahal, potensi pemain putri Indonesia sangat besar. Secara fisik, teknik, dan mental, banyak pemain mampu bersaing. Yang kurang hanyalah kesempatan dan sistem.
Liga Putri Bukan Sekadar Kompetisi, Tapi Simbol Keseriusan
Menggelar liga sepakbola putri bukan hanya soal pertandingan tiap pekan. Ini soal pesan. Pesan bahwa sepakbola putri dihargai, diprioritaskan, dan dianggap bagian penting dari ekosistem sepakbola nasional.
Tanpa liga, regenerasi akan macet. Sekolah sepakbola putri kehilangan arah, pelatih kesulitan membina, dan pemain muda akhirnya memilih berhenti karena tak melihat masa depan.
Liga adalah harapan. Liga adalah tujuan.
PSSI Tak Bisa Terus Berlindung di Balik Janji
Setiap pergantian kepengurusan, wacana liga putri kembali muncul. Janji disampaikan, roadmap dirilis, lalu perlahan menghilang. Publik mulai jenuh, pemain semakin frustrasi.
Jika PSSI benar-benar ingin membangun sepakbola nasional secara menyeluruh, maka sepakbola putri harus masuk prioritas nyata, bukan sekadar formalitas program.
Langkah kecil lebih baik daripada janji besar tanpa realisasi.
Solusi Realistis: Mulai dari Skala Kecil Tapi Konsisten
Tak perlu langsung liga besar dengan biaya tinggi. Liga putri bisa dimulai dengan format sederhana:
- Jumlah peserta terbatas
- Wilayah terpusat
- Durasi kompetisi singkat
- Dukungan langsung federasi
Yang terpenting adalah konsistensi. Liga yang berjalan rutin setiap tahun akan menciptakan kepercayaan, menarik sponsor secara bertahap, dan membangun basis penonton.
Sepakbola putri tak butuh kemewahan, tapi kepastian.
Peran Klub dan Operator Liga
Selain PSSI, klub dan operator liga juga punya peran penting. Klub Liga 1 dan Liga 2 bisa diwajibkan memiliki tim putri, setidaknya secara bertahap. Skema insentif bisa diterapkan, bukan hanya sanksi.
Dengan keterlibatan klub, liga putri akan memiliki struktur yang lebih jelas dan berkelanjutan.
Dukungan Publik dan Media Sudah Ada
Berbeda dari satu dekade lalu, kini media sosial memberi ruang luas bagi sepakbola putri. Publik mulai peduli, diskusi berkembang, dan dukungan moral terus mengalir. Ini momentum yang seharusnya dimanfaatkan PSSI.
Menunda berarti kehilangan kesempatan.
Dear PSSI, Ini Soal Keberanian
Pada akhirnya, pertanyaan ini kembali pada satu hal: keberanian mengambil keputusan. Sepakbola putri tak akan berkembang jika hanya diperlakukan sebagai proyek sampingan.
Dear PSSI, menggelar Liga Sepakbola Putri bukan soal bisa atau tidak bisa. Ini soal mau atau tidak mau.
Jika sepakbola benar-benar untuk semua, maka perempuan pun berhak mendapatkan panggung yang sama.










