DUNIA

Pelatih Mesir Kecam Perlakuan Tak Adil Usai Tersingkir di Semifinal Piala Afrika 2025

48
×

Pelatih Mesir Kecam Perlakuan Tak Adil Usai Tersingkir di Semifinal Piala Afrika 2025

Share this article

Hossam Hassan Tuding Timnya Diperlakukan Tidak Adil Usai Kekalahan dari Senegal

Setelah Kekalahan Tipis, Pelatih Mesir Soroti Ketidakadilan Jadwal dan Perlakuan Tim
Setelah Kekalahan Tipis, Pelatih Mesir Soroti Ketidakadilan Jadwal dan Perlakuan Tim

handicap.co.id, Jakarta – Pelatih Timnas Mesir, Hossam Hassan, meluapkan kemarahannya usai timnya gagal melaju ke final Piala Afrika 2025. Kekalahan tipis 0-1 dari Senegal memicu kritik keras Hassan, yang menuding timnya mendapat perlakuan tidak adil sepanjang turnamen.

Pertandingan semifinal berlangsung di Grand Stade de Tanger, Tangier, Maroko, Kamis (15/01/2025) dini hari WIB. Satu-satunya gol dicetak oleh Sadio Mane pada menit ke-78 lewat tendangan keras dari luar kotak penalti, yang menembus gawang Mohamed El Shenawy. Kekalahan ini menghentikan ambisi Mesir meraih gelar Piala Afrika, sementara Senegal melaju ke partai puncak melawan tuan rumah Maroko di Prince Moulay Abdellah Stadium, Rabat, pada 19 Januari mendatang.

Tuduhan Perlakuan Tidak Adil

Hossam Hassan secara terbuka menuding adanya ketidakadilan, terutama soal jadwal pertandingan yang dianggap merugikan Mesir. Pelatih 57 tahun itu menilai rasa iri terhadap dominasi historis Mesir di ajang ini menjadi alasan di balik perlakuan tersebut.

Di lapangan, Hassan sempat mengangkat tujuh jari sebagai simbol jumlah gelar juara Piala Afrika yang dimiliki Mesir, terbanyak dalam sejarah. Beberapa pemain Mesir juga terlihat memprotes keputusan wasit, bahkan menyinggung dugaan praktik kecurangan finansial.

Perjalanan Mesir menuju semifinal memang melelahkan. Tim “The Pharaohs” harus menempuh jarak 788 km dari Agadir ke Tangier hanya empat hari setelah mengalahkan Pantai Gading. Sementara itu, Senegal mendapat satu hari istirahat lebih lama, meski bermain di stadion yang sama saat menghadapi Mali.

Bukan Kebetulan

Hassan menegaskan bahwa perlakuan yang diterima timnya bukanlah kebetulan. Pelatih yang kini berusia 59 tahun itu mengaku terkejut dengan jadwal yang dianggap merugikan Mesir.

“Mesir tidak butuh alasan atau permintaan maaf. Kami adalah negara besar, dengan tujuh gelar Piala Afrika, dan tidak ada yang bisa menyamai itu,” kata Hassan.

Baca Juga  Mauricio Souza Murka Usai Persija Tumbang di Markas Persib: Dua Blunder Jadi Penentu Kekalahan

Ia menambahkan, “Kami hanya menginginkan keadilan seperti yang didapat Senegal. Kami bermain sehari setelah mereka, padahal stadion sama untuk semifinal. Ini sungguh mengejutkan.”

Hassan juga mempertanyakan aturan FIFA: “Berdasarkan hukum FIFA, perlakuan seperti ini untuk tim semifinalis masuk akal? Apakah ini bentuk penghormatan atau justru penyiksaan?”

Perlakuan Setara untuk Semua Tim

Menurut Hassan, semua tim semifinalis seharusnya mendapat waktu istirahat yang setara untuk memastikan kualitas pertandingan.

“Semua tim harus diperlakukan sama agar semifinal berlangsung maksimal. Tapi kenyataannya, tiga tim lainnya mendapat waktu istirahat lebih lama,” ujarnya.

Meski diperkuat bintang-bintang seperti Mohamed Salah dan Omar Marmoush (Manchester City), Mesir belum menjuarai Piala Afrika sejak 2010, ketika mereka mencatat hattrick gelar usai menjuarai turnamen pada 2006 dan 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *