Handicap.co.id, Bandung – Isu mengenai kemungkinan Arab Saudi melepas kepemilikan Newcastle United untuk mendanai rencana pengambilalihan Barcelona akhirnya mendapat kejelasan. Dana Investasi Publik Arab Saudi atau Public Investment Fund (PIF) disebut telah memberikan sinyal tegas terkait rumor yang beredar tersebut.
Spekulasi ini muncul seiring kabar bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, tengah dikaitkan dengan rencana pengajuan tawaran bernilai fantastis, mencapai 10 miliar euro, guna memperoleh kendali finansial atas Barcelona. Jika skenario itu benar-benar terjadi, suntikan dana tersebut diyakini akan sangat membantu kondisi ekonomi klub asal Catalunya yang tengah tertekan.
Barcelona saat ini diketahui menanggung beban utang hampir menyentuh angka dua miliar paun. Situasi finansial tersebut membuat mereka bergerak sangat terbatas di bursa transfer musim panas 2025, dengan pengeluaran yang tidak melebihi 30 juta paun.
Meski demikian, proses pengambilalihan Barcelona bukan perkara mudah. Klub tersebut menganut sistem kepemilikan berbasis keanggotaan, di mana para socios dikenal sangat menjaga nilai historis dan tradisi klub, sehingga perubahan struktur kepemilikan kerap menuai resistensi.
Peluang Investasi Masih Terbuka
Terlepas dari kompleksitas tersebut, peluang investasi tetap ada. Dalam beberapa tahun terakhir, PIF tercatat aktif menggelontorkan dana besar ke berbagai sektor olahraga global. Namun, masih belum dapat dipastikan apakah potensi investasi ke Barcelona akan dilakukan secara langsung oleh Mohammed bin Salman atau melalui PIF yang dipimpinnya.
Opsi keterlibatan PIF inilah yang kembali memunculkan tanda tanya mengenai masa depan Newcastle United. Saat ini, PIF menguasai sekitar 85 persen saham klub asal Inggris tersebut.
Di bawah kepemilikan Arab Saudi, Newcastle menjalani proyek jangka panjang bersama Eddie Howe. Puncak pencapaian sejauh ini adalah keberhasilan mengakhiri puasa gelar selama 70 tahun dengan menjuarai Carabao Cup setelah menundukkan Liverpool di partai final awal tahun ini.
Meski rumor beredar luas, tidak ada indikasi bahwa PIF berniat mengalihkan fokus investasinya dari Newcastle. Koresponden senior sepak bola Give Me Sport, Ben Jacobs, bahkan pernah menyatakan pada Desember 2022 bahwa peluang PIF menjual saham Newcastle nyaris tidak ada.
PIF Tegaskan Komitmen terhadap Newcastle United
Pernyataan serupa juga pernah disampaikan oleh Amanda Staveley, mantan CEO Newcastle United, yang sebelumnya memiliki enam persen saham bersama suaminya, Mehrdad Ghoudoussi. Dalam ajang Financial Times Football Summit yang dikutip Sky Sports, Staveley menegaskan bahwa sejak awal konsorsium memiliki visi jelas.
Menurutnya, mereka mencari klub dengan basis pendukung yang fanatik serta harga akuisisi yang realistis. Ia menyebut Newcastle memenuhi kedua kriteria tersebut, berbeda dengan klub-klub besar lain seperti Tottenham, Chelsea, atau Liverpool yang membutuhkan dana jauh lebih besar.
Staveley juga mengungkapkan bahwa meski dirinya merupakan penggemar Liverpool dan sempat mencoba membelinya, keputusan akhirnya jatuh pada Newcastle karena nilai investasi yang dianggap jauh lebih masuk akal dibandingkan harus mengeluarkan miliaran paun.
Pada September lalu, Newcastle menunjuk David Hopkinson sebagai CEO baru. Dalam wawancaranya dengan BBC Sport awal bulan ini, Hopkinson mengaku menjalin komunikasi intens setiap hari dengan pihak PIF.
Ia menggambarkan PIF sebagai entitas global yang sangat besar, namun menegaskan bahwa Newcastle memiliki posisi istimewa di mata mereka. Menurut Hopkinson, perhatian dan keterlibatan PIF terhadap Newcastle bahkan terasa jauh melampaui nilai investasi yang telah ditanamkan.
PIF di Jajaran Pemilik Klub Terkaya Dunia
Melalui PIF, Newcastle United kini berada di bawah kepemilikan paling kaya di dunia sepak bola. Selisih kekayaan PIF dengan pemilik klub lain disebut mencapai lebih dari 450 miliar paun.
Kondisi ini menjadi keuntungan besar bagi Newcastle, terutama jika dibandingkan dengan era kepemilikan sebelumnya di bawah Mike Ashley, yang dikenal minim ambisi dan sempat membawa klub terpuruk hingga terdegradasi ke Championship.
Saat PIF mengakuisisi mayoritas saham Newcastle pada 2021, publik sempat berharap terjadinya revolusi besar seperti yang dilakukan Roman Abramovich di Chelsea atau Sheikh Mansour di Manchester City. Namun, konsorsium Arab Saudi memilih pendekatan berbeda dengan tidak menghamburkan dana secara agresif.
Meski demikian, perubahan arah klub tetap terasa signifikan. Sejak pengambilalihan, Newcastle telah menghabiskan sekitar 730,85 juta paun untuk mendatangkan 27 pemain baru.
Perbedaannya terletak pada strategi belanja, di mana dana tersebut digunakan untuk memperkuat fondasi skuad secara menyeluruh, bukan sekadar merekrut satu atau dua bintang besar.
Sumber: Give Me Sport










