Handicap.co.id, Medan – Timnas Indonesia U-17 tergabung di Grup B Piala Asia U-17 2026 bersama Jepang, China, dan Qatar berdasarkan hasil undian resmi. Komposisi ini langsung menuai berbagai reaksi, termasuk dari Kepala Pemandu Bakat PSSI, Simon Tahamata.
Menurut Simon, narasi yang terlalu menonjolkan kekuatan calon lawan justru bisa berdampak kurang baik terhadap kondisi psikologis para pemain muda. Ia mengingatkan agar opini publik tidak membuat para pemain merasa kalah sebelum pertandingan dimulai.
Ia menegaskan bahwa Indonesia masih memiliki waktu untuk mempersiapkan diri secara maksimal. Program latihan yang disiplin, kerja keras di lapangan, serta peningkatan mentalitas menjadi kunci menghadapi persaingan di level Asia.
Simon mengakui Jepang, China, dan Qatar merupakan tim dengan kualitas yang patut diwaspadai. Namun ia menekankan bahwa dalam sepak bola segala kemungkinan tetap terbuka.
“Sepak bola itu tidak bisa diprediksi sepenuhnya. Kita tidak boleh langsung berasumsi akan kalah. Kita harus punya keyakinan bahwa kita mampu bersaing dan meraih kemenangan,” ujarnya.
Mentalitas Jadi Fondasi Utama
Bagi Simon, faktor mental menjadi elemen paling penting dalam turnamen sekelas Piala Asia. Tanpa keberanian dan rasa percaya diri, menurutnya, sulit bagi sebuah tim untuk tampil kompetitif.
Ia bahkan menyampaikan bahwa jika sejak awal sudah merasa tidak mampu, lebih baik tidak perlu bertanding. Menurutnya, tantangan memang tidak mudah, tetapi itu bukan alasan untuk menyerah sebelum berjuang.
Simon juga meminta publik agar memberikan dukungan penuh kepada para pemain yang masih berusia 16 tahun tersebut. Ia menilai kritik yang berlebihan justru dapat menghambat perkembangan mereka.
“Percayalah pada mereka. Mereka masih sangat muda dan sedang dalam proses berkembang,” pesannya.
Soroti Perbedaan Perlakuan
Simon turut menyinggung perbedaan sikap publik terhadap tim kelompok usia dibandingkan dengan tim senior. Ia mempertanyakan mengapa tekanan sering kali lebih besar diberikan kepada pemain muda.
Menurutnya, pendekatan yang menakut-nakuti hanya akan merugikan perkembangan mental anak-anak tersebut. Ia menekankan pentingnya membangun rasa percaya diri sejak dini.
Simon juga berbagi pengalamannya saat bermain di Ajax. Ia menggambarkan bagaimana mentalitas kuat membuat timnya tetap yakin meski tertinggal lebih dulu.
“Dalam sepak bola, keadaan bisa berubah kapan saja. Yang terpenting adalah kepercayaan pada kemampuan sendiri,” jelasnya.
Tekankan Pentingnya Kerja Sama Tim
Ia mengingatkan bahwa sepak bola adalah olahraga kolektif. Setiap pemain bukan bertanding sendirian, melainkan bagian dari sebuah sistem yang melibatkan rekan setim, pelatih, dan dukungan suporter.
Simon berharap pola pikir pemain dan publik bisa berubah menjadi lebih positif. Ia mengajak semua pihak untuk tidak takut menghadapi lawan mana pun.
Menurutnya, kesempatan melawan Jepang, China, dan Qatar justru harus dilihat sebagai peluang berharga untuk mengukur kemampuan dan berkembang.



