DUNIALIGA EROPALIGA INGGRIS

Transfer Liam Rosenior ke Chelsea: Potret Kerasnya Sepak Bola di Era Kepemilikan Multi-Klub

22
×

Transfer Liam Rosenior ke Chelsea: Potret Kerasnya Sepak Bola di Era Kepemilikan Multi-Klub

Share this article

Liam Rosenior

Rosenior
Rosenior

Handicap.co.id, Jakarta – Transformasi sepak bola Eropa melalui skema multi-club ownership (MCO) kini tak lagi sekadar konsep di atas kertas. Dampaknya mulai dirasakan langsung oleh klub-klub di luar lingkar elite, salah satunya Racing Club Strasbourg. Pekan ini menjadi momen krusial bagi klub Ligue 1 tersebut untuk memahami konsekuensi nyata dari keputusan besar bergabung dalam jaringan kepemilikan global.

Strasbourg berada di ambang kehilangan figur sentral dalam proyek kebangkitan mereka. Liam Rosenior, pelatih muda asal Inggris yang tengah naik daun, disebut hampir pasti akan melanjutkan kariernya ke Chelsea—klub utama dalam jaringan MCO milik BlueCo. Situasi ini menggambarkan dengan jelas bagaimana relasi kekuasaan bekerja dalam struktur kepemilikan multi-klub modern.

Meski Chelsea sempat mempertimbangkan opsi lain, termasuk Felipe Luís, mantan bek kiri The Blues yang kini sukses meniti karier kepelatihan bersama Flamengo, sinyal terkuat mengarah pada Rosenior sebagai kandidat utama. Pilihan ini sekaligus menegaskan posisi Strasbourg dalam hierarki jaringan BlueCo.

Namun, kepindahan ini bukan hanya soal langkah karier seorang pelatih. Bagi Strasbourg dan basis suporternya, ini adalah ujian besar tentang sejauh mana klub masih memiliki kendali atas masa depannya sendiri sejak berada di bawah payung kepemilikan asing.


Dari Keraguan Suporter hingga Kepercayaan Penuh

Saat Rosenior ditunjuk sebagai pelatih Strasbourg pada 2024, respons publik tidak sepenuhnya positif. Sejumlah suporter memandang keputusan tersebut sebagai kebijakan yang lebih mencerminkan kepentingan London ketimbang aspirasi lokal Alsace. Hubungan profesional Rosenior dengan Paul Winstanley, direktur olahraga Chelsea yang pernah bekerja bersamanya di Brighton, semakin memperkuat kecurigaan tersebut.

Namun, waktu perlahan mengubah persepsi. Rosenior berhasil membangun tim dengan gaya bermain ofensif dan progresif, sekaligus menunjukkan penghormatan terhadap identitas historis Strasbourg sebagai simbol kebanggaan regional. Pendekatan itu membuatnya diterima, bahkan dipuji, oleh publik La Meinau.

Baca Juga  Chelsea Siapkan Rp2,9 Triliun untuk Dapatkan Vinicius Junior dari Real Madrid

Secara performa, Strasbourg tampil kompetitif sepanjang musim. Mereka hanya terpeleset di fase akhir kompetisi dan gagal mengamankan tiket Liga Europa akibat dua kekalahan krusial. Popularitas Rosenior pun melonjak, menjadikannya pilar utama dalam proyek olahraga klub.


Perpisahan yang Terasa Terlalu Dini

Menjelang jeda kompetisi, performa Strasbourg di liga memang sempat menurun, meski mereka mencatat hasil positif di UEFA Conference League dengan tiga kemenangan. Laga imbang 1-1 kontra Nice diyakini menjadi penampilan terakhir Rosenior bersama Strasbourg di Ligue 1.

Kabar kepergian sang pelatih di tengah musim memicu reaksi keras dari kelompok suporter garis depan. Mereka menuntut Marc Keller, Presiden klub, untuk bertanggung jawab, dengan tudingan gagal menjaga kepentingan Strasbourg sejak klub dijual ke BlueCo. Bagi sebagian fans, Strasbourg kini dipandang lebih sebagai satelit kekuatan London Barat ketimbang entitas independen.

Kemarahan serupa sebenarnya sudah muncul sebelumnya, ketika kapten tim Emanuel Emegha dilepas ke Chelsea dan kemudian dipinjamkan kembali. Pola tersebut kini terulang, namun dengan dampak emosional yang jauh lebih besar.


Wajah Nyata Era Multi-Club Ownership

Kasus ini mencerminkan realitas keras MCO. Ketika Chelsea membutuhkan pelatih atau pemain, klub-klub mitra dalam jaringan BlueCo secara otomatis menjadi opsi utama. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: sejauh mana klub-klub lain, khususnya di Prancis, bersedia menerima dinamika seperti ini?

Kondisi finansial memperumit situasi. Aturan rasio biaya skuad di Premier League mendorong klub Inggris mencari mitra baru, sementara krisis hak siar—termasuk runtuhnya kesepakatan DAZN—membuat banyak klub Prancis membutuhkan suntikan dana cepat. Dalam konteks tersebut, investasi asing menjadi solusi yang menggoda, meski dengan konsekuensi jangka panjang.

Hubungan antara sepak bola Inggris dan Prancis kini bukan lagi sekadar transaksi pasar bebas, melainkan struktur hierarkis yang dibentuk oleh kepemilikan.

Baca Juga  Hasil Lengkap, Klasemen, Jadwal dan Top Skor Premier League 2025/2026

Investasi Besar dan Bayaran yang Tak Terlihat

Dari sudut pandang BlueCo, langkah-langkah ini dianggap sah dan bahkan menyelamatkan Strasbourg. Mereka menyoroti investasi signifikan dalam skuad, peminjaman talenta muda Chelsea seperti Kendry Páez dan Mamadou Sarr, serta pendanaan renovasi stadion La Meinau. Rencana pembangunan fasilitas latihan baru juga telah diumumkan.

BlueCo menegaskan bahwa Chelsea akan menebus klausul pelepasan Rosenior secara penuh. Mereka juga mengklaim mendapat dukungan dari pemerintah lokal serta persetujuan otoritas keuangan sepak bola Prancis, DNCG.

Contoh lain adalah Joaquín Panichelli, penyerang 23 tahun yang kini masuk radar tim nasional Argentina. Jika performanya terus menanjak, penjualan tampak tak terhindarkan. Bagi BlueCo, kehadiran Panichelli di Strasbourg adalah hasil dari jaringan rekrutmen dan kekuatan finansial mereka—sehingga Chelsea dianggap wajar memiliki hak prioritas.


Bertahan atau Kehilangan Jati Diri

Secara teknis, Strasbourg diyakini tidak akan kesulitan menemukan pengganti Rosenior. Partisipasi di kompetisi Eropa serta anggaran belanja yang kompetitif membuat posisi pelatih tetap menarik di mata kandidat potensial.

Namun, ada aspek yang tak bisa dihitung dengan angka atau investasi: identitas klub. Perasaan menjadi bagian kecil dari sebuah imperium global membawa dampak psikologis yang sulit diabaikan. Meski tidak semua pemain atau pelatih Strasbourg akan berakhir di Chelsea, bayang-bayang kemungkinan tersebut akan selalu hadir.

Sepak bola modern kini berada di persimpangan baru. Era kepemilikan multi-klub telah menjadi kenyataan, dan Strasbourg—suka atau tidak—berada di barisan terdepan dalam merasakan seluruh konsekuensinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *