Handicap.co.id, Medan – Penampilan gemilang Lamine Yamal kembali menuai sorotan. Winger muda milik FC Barcelona itu mendapat pujian tinggi dari rekan setimnya di timnas Spanyol, Aymeric Laporte. Menurut Laporte, kehadiran Yamal di lapangan kerap membuat para pemain bertahan lawan merasa cemas setiap kali ia menguasai bola.
Di usia yang baru menginjak 18 tahun, Yamal terus memperlihatkan perkembangan pesat. Kemampuan olah bolanya yang lincah dan penuh kreativitas bahkan memunculkan kembali perbandingan dengan megabintang Argentina, Lionel Messi.
Pujian tersebut hadir di tengah konsistensi performanya bersama klub maupun tim nasional. Catatan statistik dalam dua musim terakhir semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu prospek paling bersinar di kancah sepak bola Eropa.
Debut di Usia 15 Tahun hingga Gunakan Nomor Ikonik
Yamal mencatatkan debut resmi bersama Barcelona saat masih berusia 15 tahun. Sejak momen itu, bakat besarnya sudah terlihat jelas, meski belum banyak yang memperkirakan ia akan berkembang secepat sekarang.
Berbeda dengan banyak pemain muda lain yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi di level tertinggi, Yamal justru tampil meyakinkan. Tepat saat genap berusia 18 tahun, ia mendapatkan kontrak anyar bernilai fantastis sebagai bentuk kepercayaan klub terhadap masa depannya.
Ia juga dipercaya mengenakan nomor punggung 10 di Camp Nou—nomor legendaris yang identik dengan Messi. Tanggung jawab besar tersebut mampu dijawab Yamal lewat kontribusi nyata di lapangan.
Musim lalu, ia membukukan 18 gol di seluruh ajang. Sementara pada musim berjalan, Yamal sudah mencatatkan 15 gol dan 12 assist dari 31 pertandingan, menjadikannya salah satu motor serangan utama Barcelona.
Laporte: Dampaknya Terasa Besar
Bukan hanya di level klub, pengaruh Yamal juga terasa bersama timnas Spanyol. Ia telah mengoleksi sejumlah gelar domestik dan internasional, serta masih berpeluang menambah prestasi besar dalam waktu dekat.
Selain itu, ia finis sebagai runner-up Ballon d’Or 2025 dan dipandang sebagai kandidat kuat peraih penghargaan tersebut di masa mendatang. Laporte mengaku menyaksikan langsung betapa besarnya ancaman yang dihadirkan Yamal bagi lawan.
Menurutnya, saat bola berada di kaki Yamal, hampir tidak ada bek yang merasa percaya diri untuk menantangnya secara terbuka. Banyak pemain bertahan memilih mundur dan bermain aman demi menghindari duel satu lawan satu.
Laporte menilai efek psikologis inilah yang membuat Yamal begitu berbahaya—ia memaksa lawan untuk bertahan lebih dalam bahkan sebelum melakukan aksi.
Disebut Mengingatkan pada Messi
Laporte juga menyinggung kemiripan situasi tersebut dengan era awal Messi. Ketika menghadapi Messi dalam duel individu, para bek kerap dibuat ragu dan tak tahu langkah apa yang akan diambil sang penyerang.
Hal serupa kini terlihat pada Yamal. Lawan sering kali kebingungan membaca pergerakannya—apakah ia akan menusuk ke dalam, mempercepat langkah, berhenti mendadak, melepaskan tembakan jarak jauh, atau mengirim umpan matang kepada rekannya.
Dengan usia yang masih sangat muda dan perkembangan yang konsisten, Yamal tampaknya berada di jalur yang tepat untuk menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di generasinya.





