Handicap.co.id, Bandung – Manchester United ternyata pernah berada di ambang perubahan besar yang berpotensi mengubah arah sejarah klub. Fakta tersebut terungkap dari kisah pertemuan tertutup antara Sir Alex Ferguson dan Pep Guardiola yang terjadi lebih dari satu dekade silam—sebuah momen krusial yang kini dikenang sebagai peluang emas yang gagal dimanfaatkan.
Sejak Sir Alex memutuskan pensiun pada 2013, Setan Merah kesulitan menemukan kestabilan di kursi pelatih. Enam manajer permanen telah silih berganti menangani tim, termasuk Ruben Amorim yang baru saja resmi dilepas dari jabatannya pada awal pekan ini. Rentetan pergantian tersebut diyakini tidak akan terjadi seandainya Ferguson berhasil mengamankan Guardiola sebagai suksesor di Old Trafford.
Namun, kenyataan berkata sebaliknya. Kisah lama itu kini kembali mencuat, seiring Manchester United kembali terjebak dalam fase transisi yang tak kunjung berakhir—menjadi simbol kegagalan perencanaan jangka panjang klub.
Jamuan Rahasia di New York
Pada 2012, Sir Alex Ferguson dan Pep Guardiola bertemu secara tertutup di sebuah restoran mewah di New York. Pertemuan itu terjadi menjelang musim terakhir Ferguson memimpin Manchester United, sementara Guardiola tengah menjalani masa rehat setelah meraih kesuksesan luar biasa selama empat musim bersama Barcelona.
Walau belum secara terbuka mengumumkan rencana pensiun, Ferguson disebut-sebut membuka peluang bagi Guardiola untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di United. Sayangnya, komunikasi di antara keduanya tidak berkembang sebagaimana yang diharapkan.
Guardiola sendiri pernah mengenang momen tersebut dalam wawancara pada 2014 dengan nada bercanda. Ia bahkan mengaku tidak yakin apakah pertemuan itu benar-benar dimaksudkan sebagai tawaran pekerjaan.
“Ia mengundang saya makan malam di restoran yang luar biasa dan suasananya sangat menyenangkan. Saat itu bahasa Inggris saya belum lancar, sementara Sir Alex berbicara cukup cepat, jadi saya tidak selalu memahami semuanya,” ujar Guardiola.
“Itu sebabnya saya tidak tahu apakah saya sedang ditawari pekerjaan atau tidak. Bagi saya, itu hanyalah makan malam yang hangat dan bersahabat. Kami benar-benar menikmati kebersamaan saat itu,” tambahnya sambil tertawa.
Penyesalan yang Datang Terlambat
Kesempatan tersebut akhirnya menghilang. Pada Januari 2013, Guardiola secara resmi diumumkan sebagai pelatih Bayern Munchen yang akan mulai bekerja di akhir musim.
Dalam buku autobiografinya Leading yang dirilis pada 2015, Ferguson mengakui bahwa dirinya tidak bisa mengajukan penawaran formal karena saat itu belum sepenuhnya memutuskan untuk pensiun.
“Saya tidak bisa menyodorkan proposal resmi karena pensiun belum menjadi rencana saya kala itu. Pep sudah meraih begitu banyak gelar bersama Barcelona dan saya sangat menghormatinya,” tulis Ferguson.
“Saya hanya meminta satu hal kepadanya: agar ia menghubungi saya sebelum menerima tawaran dari klub lain. Sayangnya, hal itu tidak terjadi dan ia akhirnya memilih Bayern Munchen pada Juli 2013,” lanjutnya.
Sebagai alternatif, Manchester United kemudian menunjuk David Moyes berdasarkan rekomendasi langsung Ferguson. Namun keputusan tersebut justru berujung pahit, karena Moyes hanya bertahan sekitar 10 bulan sebelum akhirnya diberhentikan.
Kini, kisah makan malam rahasia itu menjadi pengingat betapa tipisnya garis antara keputusan tepat dan kesalahan besar—sebuah titik balik yang mungkin saja mengubah nasib Manchester United hingga hari ini.










